Nasional

Pilgub Jatim 2018 Kurang Menarik Jika…

Sumedang Media, Surabaya – Dekan Fikom Unitomo Surabaya Redi Panuju berpandangan, jika kontestasi Pilgub Jatim 2018 hanya diikuti Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa (KIP) ibarat kisah pewayangan seperti Barata Yudha Jaya Binangun.

Menurutnya, perebutan kekuasaan yang dalam menduduki kursi tertinggi di Provinsi Jawa Timur itu terkesan kurang menarik. Pasalnya kedua bakal calon gubernur (GI dan KIP, red) berasal dari satu petarangan atau wadah yang sama, yakni keluarga Nahdliyin.

Pria yang sempat maju dalam bursa Pilihan Rektor Universitas Dr Soetomo (Unitomo ) pada 2017 itu menganggap jika adanya satu calon lagi yang mendeklarasikan diri untuk maju dalam Pilgub, akan lebih menarik. Bahkan bisa membuat masyarakat Jatim lebih pandai untuk melihat fenomena pesta rakyat lima tahun itu.

"Pilgub Jatim 2018 saya artikan sebuah uji gagasan, jadi bukan siapa gubernurnya. Tapi apa yang akan dilaksanakan setelah Gubernur itu dipilih," tutur Redi Panuju, Senin (13/11/2017).

Menurut Redi, dewasa ini masyarakat Jatim sudah sedikit bosan terhadap dua calon yanh sudah menyatakan siap beradu dalam Pilgub. Sehingga dalam konteks memberikan perihal baru bagi masyakarat maka diperlukan satu kandidat lagi.

"Dalam kurun waktu yang tersisa masih bisa menggunakan komunikasi politik lewat media massa sehingga muncul nama-nama. Sekarang yang sudah muncul seperti Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Bupati Bojonegoro Suyoto sudah lumayan menarik," tuturnya.

Sedangkan Gus Ipul dan Khofifah, tambahnya, kedua calon itu sama-sama mengandalkan basic primordial, basic kultural sehingga sangat mengandalkan pemilih loyal yang tradisional.

"Sementara yang belum tertampung ialah pemilih kelas menengah yang rasional. Partai-partai yang belum punya jago di luar (Gus Ipul dan Khofifah) harus secepatnya melakukan peminangan. Emil yang lebih ke nasionalis ini akan cocok disandingkan dengan Mahfud MD yang religious nasionalis untuk mengisi poros tengah," paparnya.

Ia menambahkan, popularitas Mahfud MD memang belum disurvei, namun jika komunikasi politiknya di-manage melalui pemasaran media, diperkirakan akan lebih baik dan bisa bersaing dengan dua kandidat yang ada.

"Kalangan tua masih dominan struktur demografisnya. Mahfud MD lebih kuat di media arus utama mainstream. Sedangkan Emil bisa mewakili anak-anak muda di medsos, artinya Emil bisa mewakili kalangan anak muda," tandasnya.

Sementara itu, menyoal peluang generasi milenial di Pilgub Jawa Timur, Halimur Rasyid dosen Universitas Islam Darul Ulum (Unisda) Lamongan mengatakan, baik Gus Ipul maupun Khofifah, keduanya belum dapat mewakili generasi milenial.

Selain dari sisi usia, pilihan strategi politik yang dilakukan oleh keduanya juga belum banyak menyentuh kelompok tersebut. Menurut Rasyid, banyak yang mengatakan jika nantinya munculnya poros tengah di kontestasi Pilgub Jatim 2018 yang di motori oleh Partai Gerindra, PKS dan PAN, diharapkan bisa mewakili peluang  generasi milinial. Dengan begitu, mendapatkan apresiasi sebagai pilihan alternatif baru dan fresh.

"Jika dilihat tawaran dari Partai Gerindra, PAN dan PKS yang saat ini dicoba untuk dimunculkan seperti pasangan Emil Elistianto Dardak (Bupati Trenggalek) dan Anwar Sadad (Sekretris DPD Partai Gerindra Jatim) dengan jargon “Jatim Emas”. Lumayan memberikan tawaran kepada masyarakat Jatim," tuturnya.

Menurutnya, kedua orang itu bisa menjadi perpaduan yang komplementer dalam merepresentasikan generasi X dan Y, perpaduan Nasionalis-NU, Mataraman dan Tapal Kuda.[beritajatim]

Sumber : InilahCom

Warta Terbaru

To Top