Nasional

Komunitas Matahari Kecil Dirikan SMP Terbuka

Komunitas Matahari Kecil Dirikan SMP Terbuka

Sumedang Media, JAKARTA — Komunitas edukasi asal Kota Bandung mempunyai nama Matahari Kecil yang didirikan semenjak 2015 sukses mendirikan Sekolah Menengah Pertama Terbuka.

“Komunitas ini bermula dari Karang Taruna Kompleks Gading Regency Seokarno Hatta Kota Bandung” ungkap pendiri Matahari Kecil, Yasser Muhammad Syaiful (24), di Kota Bandung, Sabtu (12/1).

Saat ini, SMP tersingkap yang didirikan Matahari Kecil mempunyai 50 siswa yang terdiri atas ruang belajar VII hingga IX. Mereka yang menjalani edukasi di sekolah tersebut tidak diambil biaya.

Pembentukan SMP Terbuka Matahari Kecil, kata Yasser, sebagai wujud keprihatinan terhadap anak-anak dari keluarga tidak cukup mampu yang berkeliaran di jalan ketika anak-anak lainnya sedang berada pada jam sekolah.

“Jadi waktu tersebut Karang Taruna Gading Regency mengejar tiga anak yang pendidikannya terhenti di SD. Awalnya mereka berniat mengalirkan ketiga anak tersebut ke SMP Terbuka Firdaus yang bertempat di wilayah Arcamanik, Bandung,” ucapnya.

Akan tetapi, sebab kuota siswa di SD tersebut penuh, Yasser dan kawan-kawan Karang Taruna Gading Regencu membuka sekolah tersingkap sendiri di Masjid Gading Regency.

Saat itu, kesebelasan pengajar selama 20 orang berasal dari anggota Karang Taruna dan semua penghuni kompleks kompleks itu. Seiring berjalannya waktu, Yasser memutuskan menciptakan struktur organisasi berdikari Matahari Kecil yang lantas melahirkan kesebelasan terbagi menjadi enam divisi, yakni “sociopreneur”, “secretary”, “creative project”, “human resource”, “public relations”, dan “documentation”.

Belum lama ini, Yasser menyimpulkan menambah divisi project management sebab sekolah tersingkap yang semakin luas jangkauannya dan perlu diacuhkan secara khusus.

Sebagai sekolah terbuka, kurikulum SMPT Matahari Kecil menginduk untuk SMPN 8 Bandung, sementara murid ruang belajar IX pun mengekor UASBN dan UNBK di lokasi itu, tetapi seluruh pengajar berasal dari sukarelawan.

Pihak SMPN 8 melulu mengirimkan utusan untuk memantau pekerjaan belajar mengajar. Sebagian kitab pelajaran juga didapat dari SMPN 8, sementara jumlah terbanyak didapat dari donatur.

“Ada (buku, red.) dari SMPN 8, tapi tersebut sedikit banget. Ada dari donasi. Ada beli sendiri pakai duit Matahari Kecil. Tapi dari sumbangan sih sangat banyak” ungkap Yasser.

Warta Terbaru

To Top