Nasional

APTISI Dukung Rencana Pemangkasan SKS

APTISI Dukung Rencana Pemangkasan SKS

Sumedang Media, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Budi Djatmiko menilai rencana pemangkasan Satuan Kredit Semester (SKS) untuk program sarjana dan diploma memang harus dilakukan. Karena jika mengacu pada negara-negara maju, program sarjana cukup 120 SKS saja.

“APTISI sudah lama mengusulkan di zaman kabinet pak SBY, agar ditinjau ulang jumlah SKS kita, karena di Amerika dan Eropa hanya 120 SKS untuk sarjana,” jelas Budi saat dihubungi Rabu (19/12).

Dia menuturkan, selama ini banyak sekali mata kuliah yang tidak terlalu esensial. Sehingga hanya mengejar banyak SKS tetapi kontennya kurang. Karena itu ke depan pemerintah harus melakukan perubahan agar mahasiswa Indonesia lebih fokus pada bidangnya masing-masing.

“Idealnya kita mengikuti negara maju, bukan banyaknya SKS, tetapi lebih ditekankan pada konten yang tepat dan baik,” ungkap dia.

Dia optimistis, jika pemangkasan SKS dilakukan maka waktu mengajar dosen akan semakin efektif. Sehingga dosen juga bisa ada waktu untuk mengerjakan riset dan pengabdian kepada masyarakat.

“Tapi yang menjadi masalah ialah dampak pada dosen pengampu mata kuliah karena jam berkurang, tetapi nanti mestinya yayasan memberikan kenaikan gaji atau insentif untuk mengajar ke depan,” jelas dia.

Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berencana untuk memangkas jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) pada jenjang sarjana (S1) dan diploma. Namun berapa jumlah SKS yang akan dipangkas masih dikaji oleh pihak Kemenristekdikti.

Menristekdikti Mohammad Nasir mengatakan, saat ini bobot SKS untuk S1 mencapai 144 SKS dan diploma mencapai 120 SKS. Jumlah SKS itu dinilai terlalu berat,menghambat kreativitas mahasiswa, dan juga membebani pembiayaan.

“Saya kira untuk S1 jadi maksimal 120 SKS, dan D3 90 SKS itu sudah cukup” ungkap Nasir.

Selain mahasiswa, kata Nasir, bobot SKS itu juga dinilai membebani dosen. Karena dengan jumlah SKS tersebut, dosen terlalu sibuk mengajar di kelas dan lupa melakukan penelitian.

Warta Terbaru

To Top