Nasional

Cerita Megawati Soal Bendera Pusaka

Cerita Megawati Soal Bendera Pusaka

Sumedang Media, JAKARTA  – Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri bercerita soal bendera pusaka di hadapan para Pengurus Pusat dan Anggota Purna Paskibraka Indonesia, di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu (10/11) malam. Ia mengatakan kain bendera pusaka yang berwarna merah diperoleh dari orang Jepang.

“Bendera pusaka ini pernah dibelah dua, demi menghindari Belanda yang mencoba menjajah kembali Indonesia” ungkap Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya pada acara Penganugerahan Lifetime Achievement Bhakti Teratai Putra Indonesia dari Pengurus Pusat Purna Paskribraka Indonesia.

Megawati mengaku riwayat bendera pusaka ini diceritakan langsung oleh ibunya, Fatmawati yang menjadi penjahit bendera pusaka. Soekarno dan Fatmawati, pada tahun 1944, sama-sama sudah merasa cita-cita seumur hidupnya yakni memerdekakan Indonesia akan secepatnya tercapai.

“Waktu itu zaman Jepang, ibu  yang masih mengandung kakak saya, menjahit bendera merah putih, tapi susah sekali mencari kain warna merah. Kalau kain warna putih banyak” ungkap Megawati.

Ketua Umum PDI Perjuangan itu menambahkan, Fatmawati kemudian mendapatkan kain warna merah dari seorang Jepang yang simpati kepadanya. “Dia seorang pengusaha bangsa Jepang yang mencarinya dan dapat. Lalu kain itu dijahit dan disimpan ibu saya” ungkap Megawati.

Bendera pusaka itu dikibarkan pertama kali di Jalan Pegangsaan Timur,  tempat di mana Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dinyatakan pertama kali oleh Soekarno dan Hatta.

Setelah proklamasi dikumandangkan, menurut Megawati, ternyata Belanda tak bisa menerima kenyataan itu dan mencoba melakukan agresi kembali. Sebagai proklamator dan Presiden pertama RI, Soekarno pun terancam. Soekarno kemudian membawa keluarganya pindah ke Yogyakarta, atas permintaan Sultan Hamengkubuwono IX.

“Ini yang tak banyak diketahui. Ibu saya bercerita. Sebelum kami pindah, ayah saya (Bung Karno) bilang ke Muntahar. Saya beri tugas kamu bawa bendera merah putih ke Yogyakarta. Saya tak mau tahu gimana caranya, yang pasti harus selamat” ungkap Megawati mengisahkan.

Habib Husein Muntahar ialah seorang mayor, yang dikenal juga sebagai Bapak Paskibraka Indonesia. “Cerita ibu saya, bendera itu dibuka lagi jahitannya, dipisah antara kain putih dan merahnya. Bendera itu tidak bisa dibawa satu orang. Namun, bendera itu sampai juga di Yogyakarta dan ibu saya menjahitnya kembali” ungkap Megawati.

Sampai bagian itu, Megawati terdiam sebentar, mengenang kisah perjuangan yang heroik membawa bendera itu dari Jakarta ke Yogyakarta. “Ini kain hanya merah dan putih, tapi jiwanya ada” ungkap Megawati, sambil menunjuk dadanya.  “Jiwanya ada di sini, ada di dada kita, roh kita” ungkap Megawati.

Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu menegaskan, kalau sekarang ada yang mau mengganti bendera merah putih, dengan yang lain, Megawati kemudian bertanya, bagaimana para pemuda, apakah siap mempertahankan negara ini? Pernyataan Megawati itu menantang para peserta acara yang mayoritas ialah para pemuda, purna Paskibraka angkatan 2000-an ke atas. “Saya harapkan, mulai malam ini, roh bendera pusaka itu kembali, roh untuk mempertahankankan merah putih kita” ungkap Megawati.

Republika

Warta Terbaru

To Top