Mozaik

Korban-Korban Kaum Assassin

Korban-Korban Kaum Assassin

Sumedang Media,  JAKARTA — Nizam al-Mulk menjadi korban kesatu dalam susunan panjang korban-korban kaum Assassin. Nizam merupakan wazir terpenting dari Dinasti Saljuk sekaligus figur utama kebangkitan kaum Suni. Ia dibunuh pada 1092. Seorang pemuda Dailam menyusup ke rombongan, lantas mengeluarkan belati yang ditikamkan tepat di jantung sang wazir.

Metode itu dipakai berulang kali dalam sekian banyak kasus pembunuhan. Kaum Assassin menjalankan tujuan dengan teknik menyamar dan menyusup ke lingkaran terdekat sasaran. disaat mendarat saatnya, mereka mengerjakan serangan tak terduga. Assassin merupakan kelompok teroris yang terorganisasi, terlatih, dan memiliki keterampilan membunuh dengan cepat. Mereka dapat jadi menyamar menjadi pengemis, sufi, atau rakyat biasa.

Kendati persiapan dijalankan dengan tingkat kerahasiaan tinggi, eksekusi seringkali dilakukan di lokasi terbuka, bahkan di depan kerumunan besar. Masjid biasa dipilih sebagai tempat pembunuhan. Tujuannya tak beda untuk membuat teror di tengah masyarakat.

Para pemimpin Suni dan kaum Salib menjadi ketakutan dengan serangan seketika yang tak tersangka di tengan kerumunan pasar. Sampai-sampai, “Beberapa pejabat menggunakan baju pengaman dari besi yang dipasang di balik baju” ungkap Imam as-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’.

Aksi teror mereka sangat tidak sedikit memakan korban. Tidak melulu dari kalangan pemimpin seperti Khalifah Abbasiyah al-Mustarsyid (1135), tapi pun ulama. Raja Yerussalem Conrat Montferrat adalahsalah satu korban Assassin dari kalangan Kristen. Kendati memunculkan ketakutan parah, beberapa kalangan malah memanfaatkan kaum Assassin guna mewujudkan destinasi mereka. Assassin juga seia menambahkan dikenal pula sebagai pembunuh bayaran.

Setelah kematian Nizam al-Mulk, pengaruh Dinasti Saljuk mulai melemah. Kaum Assassin lebih leluasa melancarkan misi. disaat yang sama, Perang Salib I dikobarkan. Orang-orang Frank mengerjakan serangan ke Asia kecil dan Suriah. Kendati tidak sedikit tentara Salib yang menjadi sasaran Assassin, kumpulan ini kemudian pun ditengarai menjalin kerja sama dengan pasukan Salib.

Sejumlah rencana penyerangan terhadap pasukan Salib sukses digagalkan oleh Assassin lewat pembunuhan tokoh-tokoh kunci. Pasalnya, musuh utama mereka sama. Kedua kelompok tersebut sama-sama menyerang kaum Suni yang mayoritas.

Pada abad berikutnya, aksi teror pun pernah hadir disaat Dinasti Ottoman berkuasa. Sejumlah kumpulan nasionalis mengerjakan aksi teror untuk mencungkil diri dari distrik kekhalifahan tersebut. Aksi-aksi teror ini dirangsang oleh motif politik. Salah satunya, Federasi Revolusi Armenia, sebuah kumpulan pergerakan revolusioner yang didirikan di Tiflis pada 1890 oleh Cristapor Mikaelian.

Banyak anggota kumpulan ini sudah menjadi unsur dari Narodnaya Volya atau Hunchakian Revolutionary Party. Mereka mengeluarkan publikasi-publikasi dan menyelundupkan senjata untuk menyebabkan intervensi Eropa agar memaksa Kekaisaran Ottoman memberikan kontrol atas distrik Armenia.

Juga terinspirasi oleh Narodnaya Volya, kumpulan lain yang mengerjakan aksi teror pada waktu kejatuhan Ottoman merupakan International Macedonian Revolutionary Organization (IMRO). IMRO adalahsebuah gerakan revolusioner yang didirikan pada 1893 oleh Hristo Tatarchev di distrik Makedonia yang dikuasai Ottoman. Lewat aksi pembunuhan dan provokasi, kumpulan ini berjuang untuk memaksa Pemerintah Ottoman mencungkil wilayah Makedonia.

Pada 20 Juli 1903, kumpulan ini menghasut penentangan Ilinden di Monastir. IMRO menyatakan kebebasan kota tersebut serta mengirim tuntutan untuk Eropa untuk menolong membebaskan semua wilayah Makedonia. Namun, tuntutan tersebut diabaikan. Pasukan Turki mengungguli 27 ribu pemberontak di kota, dua bulan kemudian.

Warta Terbaru

To Top