Mozaik

RI-Malaysia Jajaki Kerjasama Kaji Manuskrip Asia Tenggara

RI-Malaysia Jajaki Kerjasama Kaji Manuskrip Asia Tenggara

Sumedang Media, JAKARTA— Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima trafik Menteri Pendidikan Malaysia Maszlee bin Malik. 

Dalam pertemuan tersebut kedua pihak menjajaki sejumlah kerjasama yang dapat dilaksanakan bersangkutan edukasi agama, salah satunya mengenai kajian manuskrip Asia Tenggara. 

“Kami di Kemenag sejak sejumlah tahun terakhir konsentrasi melakukan kajian manuskrip. Ke depan kami hendak membangun Pusat Manuskrip Nusantara,” ungkapnya dalam penjelasan tulis yang diterima , Jumat (11/1). 

Berdasarkan keterangan dari Menag, kajian manuskrip Nusantara menjadi perhatian Kemenag karena tidak sedikit khasanah keilmuan yang terdapat dan tersebar di dalamnya belum tergali dan terinventarisir dengan baik. 

“Padahal khazanah-khazanah yang terdapat dalam manuskrip kita paling kaya,” ia menambahkan. 

Menanggapi urusan tersebut, Maszlee mengisahkan bahwa di Malaysia sudah dikembangkan digitalisasi manuskrip. 

“Kita tidak sedikit koleksi digital. Jika diperlukan, kami dapat membantu guna digitalizing manuscript,” ujar Maszlee. 

Ia mengapresiasi Kemenag yang telah menyerahkan perhatian pada manuskrip Nusantara. Kajian manuskrip yang terdapat di Malaysia pun mencakup sejumlah manuskrip yang tersebar di Asia Tenggara, Mindanao misalnya. 

“Manuskrip yang terdapat di Asia Tenggara sebetulnya tak kalah dengan yang terdapat di Arab Saudi,dan sebagainya,” ujar Maszlee. 

Ia menambahkan, kajian manuskrip, terutama manuskrip keagamaan, urgen untuk dilaksanakan bersama-sama. 

“Apalagi anda satu rumpun. Ini di hari depan bakal jadi peninggalan untuk anak cucu kita,” tuturnya. 

Staf berpengalaman Menteri Agama, Oman Fathurahman menyambut baik bila Indonesia dan Malaysia dapat membina kerjasama pada bidang kajian manuskrip. 

Ia menilai Malaysia paling maju di bidang sains dan kedokteran. Di ketika yang sama, kajian manuskripnya pun paling baik. Ada manuskrip Nusantara karya Nurudin Ar Raniry, ulama asal Aceh ternyata sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh seorang profesor di Malaysia.

Namun sayangnya, menurut keterangan dari Oman, karya terjemahan manuskrip Nurudin Ar Raniry itu lumayan mahal sebab harus dibeli dalam mata duit Ringgit. 

Menanggapi urusan tersebut, Menteri Pendidikan Malaysia menawarkan apakah memungkinkan universitas-universitas di Malaysia membuka cabang di Indonesia, terutama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). 

Bila memungkinkan demikian, kata Maszlee, mahasiswa Indonesia yang hendak belajar di Malaysia tidak butuh pergi ke Malaysia lumayan di Indonesia, tetapi memakai kurikulum, tenaga pengajar, dan cara pengajaran dari Malaysia. 

“Termasuk salah satunya kajian manuskrip. Buku pun bisa dicetak di Indonesia. Ini pasti lebih ekonomis,” urainya. 

Menanggapi urusan tersebut, Menag menyatakan akan mengkaji gagasan tersebut. “Ini gagasan menarik, kami bakal coba dalami. Karena ini bersangkutan pun dengan lembaga lain laksana Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” sahut Menag. 

Pada pertemuan yang dilangsungkan selama satu separuh jam tersebut, Menag pun mengajak Malaysia untuk bareng menyuarakan mengenai moderasi beragama. 

“Semoga kita dapat bersinergi guna mempromosikan moderasi beragama. Kami hendak paham-paham keagamaan dapat diarahkan untuk hal-hal yang lebih moderat,” kata Menag. 

Setuju dengan Menag, Menteri Maszlee menuliskan promosi moderasi beragama mesti dilaksanakan bersama-sama. Ia pun mengatakan terdapat tiga kunci terciptanya moderasi beragama. Pertama kasih sayang, kedua kegembiraan, dan ketiga toleransi.  

Warta Terbaru

To Top