Lifestyle

Cerita Gay: Masih Doyan Lelaki, Meski Sudah Beristri

Sumedang.info  Deni Eka Saputra alias Dennis dari Yayasan Komunitas Aksi Kemanusiaan Indonesia mensinyalir makin derasnya arus urbanisasi dan semakin gampangnya akses terhadap Internet menjadi salah satu pemicu meningkatnya jumlah gay atau lelaki suka lelaki (LSL) di Kota Depok, Jawa Barat. Dengan menyamarkan identitas, mereka bisa secara bebas berkomunikasi untuk selanjutnya bertemu di lokasi yang disepakati. Media sosial yang dimaksud antara lain Facebook, Twitter, dan blog.

 

Misalnya dalam sebuah akun Twitter @GayDepok1 yang memiliki 226 follower, menulis status “I’m gay, saya tinggal di Depok… Kp.Cipayung”. Sedangkan untuk di laman Facebook, search dengan menulis “gay depok”, akan muncul beberapa komunitas seperti mereka. Ada anggota komunitas yang berani menampilkan foto pribadi, namun kebanyakan menggunakan wajah orang lain. Umumnya yang dipasang adalah wajah-wajah klimis bintang sinetron Korea dan lelaki bule.

 

Media sosial itu tidak hanya menjadi tempat berkenalan atau berteman, tapi juga menjadi seperti ajang transaksi seks terbuka. Mereka menawarkan diri untuk berkencan hingga mengajak aktivitas seksual yang diinginkan dengan menuliskan bahkan bertukar PIN BB . Dan ada yang berani mencantumkan nomor telepon seluler.

 

Renaldy Toh misalnya. Di grup itu, pria yang mengaku baru berusia 18 tahun tersebut tinggal di kawasan Margonda, tepatnya di belakang Mal Margo City. Dari foto di laman Facebook pribadinya, penampilannya bersih. Alis tebal, hidung lumayan mancung dan tubuh ramping. Pada 23 September lalu, Renaldy, yang mengenakan baju koko putih dengan renda di bagian dada, menulis status “Lagi pengin di***”. Tak lupa ia mencantumkan PIN BB: 26E3B06E.

 

Seorang gay yang tinggal di Cimanggis, Depok ingin berbagi cerita tentang lika liku dunia gay. “Tapi nama dan foto saya jangan ditampilkan. Saya punya istri dan anak.”

 

Sebut saja dia Dino. Awalnya ia tak menyangka memiliki orientasi biseksual. Saat remaja hingga masuk kuliah, ia mempunyai pacar perempuan. Namun, sejak semester IV di sebuah perguruan tinggi swasta di Depok, Dino mengaku sering bergaul dengan teman-teman lelaki yang ternyata punya orientasi seksual dengan sesama jenis. Pergaulan itu, menurut dia, ikut mempengaruhinya untuk sekadar mencoba-coba dan agar bisa diterima bergaul dengan mereka. “Saya iseng-iseng ‘bermain’, tapi akhirnya malah berlanjut,” ujar Dino.

 

Setelah lulus kuliah, Dino menikah dengan pacar perempuannya, yang kini telah memberinya seorang anak. Tetapi keisengannya berhubungan badan dengan sesama jenis terus berlanjut secara diam-diam. Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, ia melakukannya seaman mungkin. Ia juga selalu menggunakan kondom. “Kasihan yang di rumah (istri). Jangan sampai terkena HIV/AIDS,” katanya.

 

Dino mengaku tak hanya berpasangan dengan satu gay. Dia bisa berkali-kali ganti pasangan.

 

Beda lagi dengan Anto, 29 tahun. Sejak beberapa pekan ini, ia mengaku bertobat menjalani aktivitas seks dengan sesama lelaki. Apalagi menjalin hubungan dengan lebih dari satu lelaki. Karena, dia terdiagnosis mengidap HIV.

“Dia dalam pembinaan kami karena sudah sakit-sakitan,” ujar seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat penanggulangan HIV/AIDS di Depok.

 

Si aktivis melanjutkan, keluarganya tak ada yang mengetahui orientasi seksual Anto. Bahkan mereka menganggap Anto sebagai anak manis, yang tidak pernah berperilaku menyimpang. “Dia rapi banget menyimpan rahasianya,” ujarnya.

 

Menurut Manajer Program Yayasan Komunitas Aksi Kemanusiaan Indonesia Tommy Soemantri, kecenderungan para gay untuk menjalin hubungan dengan satu LSL itulah yang membuat data mereka di Depok seolah-olah begitu besar. Seperti dirilis Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Depok Herry Kuntowo, tahun ini juga jumlah gay di Depok 5.791 orang. “Padahal LSL yang dimaksud tak selalu berdomisili di Depok, ada yang dari Bogor, Jakarta, dan kota lain,” ucapnya.

 

Ia melanjutkan pendataan terhadap gay di kawasan Depok, dilakukan oleh beberapa lembaga yang didanai oleh The Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria. Tujuannya, dengan mengetahui jumlah, agar mereka bisa memberikan edukasi dan sosialisasi pencegahan terhadap berbagai risiko penyakit, seperti infeksi menular seksual dan HIV/AIDS. Apalagi pendamping di lembaganya menemukan, banyaknya pasangan LSL masih berusia di bawah 17 tahun. Juga banyak LSL yang belum menggunakan alat pengaman untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS.

 

“Kami menghargai orientasi seks seseorang. Kami hanya berusaha supaya mereka sehat. Jangan sampai penyakit berbahaya mengalami penyebaran secara masif tanpa edukasi dan tindakan preventif,” ucap Tommy.

 

Seiring dengan meningkatnya jumlah mereka yang punya orientasi seks tak lazim itu, Deni Eka Saputra menambahkan, jumlah pengidap HIV/AIDS di Kota Depok pun bertambah. Bersama rekan-rekannya di Yayasan Komunitas Aksi Kemanusiaan, ia saat ini mendampingi 38 LSL yang positif terjangkit HIV.

Warta Terbaru

To Top