Internasional

Ketika Muslim Uighur Dipaksa Buang Air Besar Dalam Tahanan

Ketika Muslim Uighur Dipaksa Buang Air Besar Dalam Tahanan

Sumedang Media, JAKARTA — Seorang Muslim Uighur yang pernah ditahan sekitar 16 bulan di kamp reedukasi Xinjiang, Gulbahar Jalilova (54 tahun) mengungkapkan apa yang ia alami ketika berada di tahanan selama setahun lebih. Ia datang ke Indonesia guna mengumumkan untuk dunia tentang situasi Muslim Uighur di Xinjiang, Cina.

Jalilova mengatakan, ia dan sejumlah Muslim Uighur lainnya ditempatkan di suatu ruangan. Semua pekerjaan apa pun melulu di dalam ruangan itu. Termasuk buang air kecil maupun besar.

“Tak dapat keluar sebab semua kegiatan melulu di dalam ruangan. Buang air kecil dan besar dilaksanakan di ruangan itu,” ujar Jalilova melewati penerjamah, dalam konferensi pers bertema ‘Kesaksian dari Balik Penjara Uighur’ di Jakarta, Sabtu (12/1).

Jalilova pun mengaku diinterogasi sesudah tiga bulan ditangkap. Tahanan lainnya terdapat yang diinterogasi setelah menantikan selama satu tahun.

Sejak bangun pagi hingga pukul separuh 10 malam, semua tahanan dikoleksi dan jangan bergerak, melulu melihat untuk dinding. Di dinding tersebut ada kamera CCTV dan layar televisi. Di tayangan TV tersebut ada Presiden Cina Xi Jinping. “Ketika menoleh dirasakan oleh penjaga mengemban ibadah kemudian disiksa, dihukum,” tutur Jalilova.

Selama di ruangan itu, tahanan tidak diberi santap maupun minum. Jalilova dan tahanan beda merasa amat kelaparan dan kehausan. Bahkan berat Jalilova hingga turun 20 kg. “Mereka hidup dalam kelaparan dan kehausan dan disaat mereka mengeluh kelaparan dan kehausan mereka dikira berkata satu sama beda lalu mendapat siksaan,” jelasnya.

Ketika terdapat satu orang yang telah lanjut umur pingsan, lantas tahanan lain hendak menolongnya, maka yang berkeinginan menolong tersebut mendapat siksaan. “Semuanya dibelenggu dengan besi, kemudian di kakinya diserahkan besi 5 kg. Semuanya laksana itu,” lanjut Jalilova.

Bahkan, Jalilova pulang menceritakan, di dalam tahanan sempat terdapat yang melahirkan. Setelah tersebut ibu dan anaknya dipisahkan. Si anak sama sekali tidak diizinkan diberi ASI. “Di penjara saya bareng perempuan dari umur sekitar 14 tahun hingga 80 tahun. Saya merasakan stres, syok,” ucapnya.

Disamping itu, semua tahanan pun disuntik guna kemudian dipungut darahnya. Para tahanan tidak terdapat yang memahami untuk apa darah itu. Pengambilan darah ini dilaksanakan per pekan sampai per bulan.

Ada satu urusan yang sungguh-sungguh ingin dipertahankan oleh wanita asal Kazakstan itu, yaitu amanah dari semua tahanan. Sebelum dilepaskan dengan pertolongan lobi dari family dan Pemerintah Kazakstan, semua tahanan menitip pesan supaya menginformasikan apa yang sebenarnya terjadi di kamp reedukasi Xinjiang, dan yang dirasakan Muslim Uighur.

“‘Kami yang di sini tidak tahu bagaimana keluarnya, minta beritahukan bahwa kami sedang menemukan penindasan dan kezaliman'” ungkap Jalilova meniru ucapan semua tahanan.

Proses mula Jalilova ditahan, yakni ketika ia menguras dua dasawarsa terakhir berbisnis di perbatasan Cina-Kazahstan. Pada Mei 2017, ia tiba-tiba diciduk di Kota Urumqi, Cina, dengan dakwaan mentransfer dana secara ilegal sebesar 17 ribu yuan (3/500 dolar AS) dari Cina dan Turki.

Warta Terbaru

To Top