Internasional

Ditahan di Kamp Xinjiang, Jalilova Dipaksa Hadap Foto Xi

Ditahan di Kamp Xinjiang, Jalilova Dipaksa Hadap Foto Xi

Sumedang Media, JAKARTA — Mantan penghuni kamp reedukasi Uighur di Provinsi Xianjang Cina, Gulbachar Jalilova (54 thaun) kembali mendengungkan kesaksiannya  sedang di kamp selama setahun enam bulan sepuluh hari. Di hadapan media masa Jalilova pulang menegaskan sudah mendapata=kan perlakuan tidak mengasyikkan dari Cina.

“Saya dikurung di ruangan 7x3x6 meter tanpa jendela, seluruh orang di dalam ruangan mesti menghadap ke arah yang sama yakni potret Presiden Cina Xi Jinping,” ujar Jalilova di konferensi pers yang diselenggarakan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dengan tema Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur, di Bebek Bengil, Menteng, Jakarta, pada Sabtu (12/1).

Pada Jumat (11/1), Jalilova telah mendatangi kantor dan bercerita mengenai penderitaannya di kamp yang kata pemerintah Cina adalahkamp pendidikan untuk menghindari terorisme, separatisme dan ekstremisme. Tapi kenyataannya, orang yang tidak berhubungan dengan ketiganya tersebut semena-mena ditangkap.  “Asal seseorang keturuan Muslim Uighur, ia tentu ditangkap,” ujar Jalilova.

Baca juga, Ini Jawaban Cina Soal Keprihatinan RI ke Muslim Uighur.

Jalilova ditangkap aparat Cina di kota Urumqi, Provinsi Xianjang sesudah ketahuan ia keturunan etnis Uighur, walau ia berasal dari Kazakhtan-Cina Xianjang. Saat disangga ia bingung dengan tuduhannya yaitu mentransfer sebanyak dana ilegal dari Cina dan Turki ke Xinjang.

“Ketika saya sedang di kamp, saya memberi tahu mereka bahwa saya merupakan orang asing dan bahwa saya tidak mengerjakan kesalahan,” ucapnya.

Baca juga, Amnesty: Muslim Uighur Xinjiang Menderita.

Dia menyatakan diinterogasi sesudah tiga bulan penangkapannya. Namun, tidak sedikit penserta kamp yang bahkan diinterogasi sampai menunggu setahun setelah penangkapan.

Hal yang membuatnya lebih merana merupakan harus terpisah dengan ketiga anaknya selama setahun lebih lamanya. Ia pun tidak dapat berkomunikasi langsung dengan anak-anaknya. Ketiga buah hatinya hanya dapat mengirim surat ke kamp Uighur sepekan sekali tanpa balasan dari Jalilova.

“Kami diberitahu bahwa kami tidak mempunyai hak di sana. Kami tidak mempunyai hak untuk mengerjakan panggilan telepon, kami laksana orang mati,” ceritanya.

Pengakuan Jalilova menciptakan terkejut untuk siapa saja yang mendengarnya. ia dikurung di dalam kamar dan melulu mendapat masa-masa tidur sekitar empat jam karena dalam ruangan kecil dan pengap ada 40-50 orang. Sehingga bila hendak tidur, mereka mesti bergantian.

“Tidur kami bergantian, sebab terlalu tidak sedikit orang, tidak dapat dalam satu ruangan seluruh orang rebah, jadi sebagain orang terbangun, beberapa lagi tertidur, istirahat kami melulu empat jam” ungkap dia.

“Kamar paling pengap, kadang mereka pun mengikat logam seberat lima kilogram di kaki kami sebagai hukuman,” Jalilova menambahkan.

Warta Terbaru

To Top