Internasional

Sudan Cari Solusi Terbaik Atasi Aksi Demo

Sudan Cari Solusi Terbaik Atasi Aksi Demo

Sumedang Media, JAKARTA — Pemerintah Sudan tetap berjuang mencari solusi terbaik dan memastikan ketersediaan bahan-bahan pokok dan bahan bakar dengan membuka keran impor walaupun didemo besar-besaran akhir-akhir ini.

Kedutaan Besar Sudan di Jakarta menuliskan sejumlah negara laksana Turki, Rusia, Qatar dan Kuwait mengaku dukungannya kepada kepandaian pemerintah tersebut.

Pemerintah Sudan bertekad untuk menuntaskan masalah ini dan menangkal situasi semakin memburuk dan mengerjakan sejumlah langkah.

Langkah tersebut di antaranya membuka keran impor, kesempatan investasi dan menghindari perselisihan antara aparat ketenteraman dan semua demonstran supaya tidak dituduh menghalangi kemerdekaan dan hak mengaku pendapat laksana telah dipastikan dalam konstitusi Sudan.

Duta Besar Republik Sudan guna Indonesia Dr Elsiddieg Abdulaziz Abdalla menyebut aksi-aksi protes yang terjadi di negaranya dan perkabaran negatif di sekian banyak belahan dunia dalam wawancara dengan sebanyak wartawan di kantornya di Jakarta, Jumat, berhubungan dengan Hari Kemerdekaan ke-63 Republik Sudan yang jatuh pada 1 Januari 2019.

“Media Barat hanya konsentrasi pada aksi-aksi protes atau kekerasan di negara-negara Afrika laksana Sudan atau Timur Tengah” ungkap Dubes Elsiddieg yang mengucapkan perkembangan dalam negeri Sudan tergolong di dalamnya masalah pengungsi yang berjumlah 9 juta, hubungan bilateral Sudan-Indonesia, dan masalah area dan dunia.

“Kekuatan-kekuatan eksternal berjuang ingin menciptakan Sudan tak stabil, tak aman dan pecah” ungkap dia, sambil menambahkan pemisahan Sudan Selatan dari Sudan merupakan tahapan kesatu mereka.

Aksi-aksi demonstrasi mengecat Sudan sejumlah pekan belakangan ini yang dipimpin oleh mahasiswa dan masyarakat di sejumlah negara unsur sebagai imbas dari krisis dan kelangkaan barang pokok di pasaran, eskalasi harga dan lemahnya perputaran uang.

Aksi yang tadinya damai pulang menjadi rusuh. Beberapa kantor pemerintah dirusak dan dibakar, kendaraan dan aset-aset lainnya pun tak luput dari pengrusakan, bahkan kantor-kantor partai pemerintah (Partai Kongres Nasional) hancur dan korban tewas menjangkau 19 orang dan dua di antaranya aparat keamanan.

Pihak oposisi Partai Komunis, Partai Kebangkitan (Baath), Partai Kongres Sudan, Partai Ummah Elsadeeg Elmahdi dan Partai Pembebasan memanfaatkan kondisi ini.

Partai-partai tersebut menghasut dan memobilisasi massa lewat selebaran, orasi yang mengkritik pemerintah, dan menuntut Presiden Omar El Bashir mundur dan menyusun pemerintahan transisi.

Beberapa kumpulan bersenjata Sudan di luar negeri menunjukkan para anggota dan pengikutnya ikut aksi protes. Kedutaaan besar Sudan di Paris, Perancis, Australia dan London, Inggris tergolong yang didemo.

Para pegiat di Washington AS menyerukan semua senator dan anggota DPR guna mendesak pemerintah Sudan supaya berhenti memakai kekerasan. Amnesti Internasional menuntut diadakannya investigasi secepatnya dan Kongres Rakyat Arab meminta pemerintah Sudan guna tidak memakai kekerasan.

Sejumlah diplomat dari kedutaan Kenya, Ethiopia, Jibouti, Nigeria dan Mesir mengkritik aksi demonstrasi dan pencemaran tersebut. Partai-partai politik pemerintah yang tergabung dalam koalisi rekonsiliasi nasional lantas membuat aksi tandingan besar-besaran yang menekankan bahwa jutaan orang bakal berada di belakang pemerintah dan ini adalahpesan kuat untuk oposisi supaya tidak main-main dengan pemerintah.

Republik Sudan yang berpenduduk selama 42 juta jiwa merupakan negara yang terletak di unsur timur laut benua Afrika. Sebelum referendum yang mengasingkan Sudan menjadi dua bagian, Sudan adalahnegara terluas di Afrika dan di wilayah Arab, serta terluas ke-10 di dunia. Kini negara ini berbatasan dengan Mesir, Republik Demokratik Kongo, Sudan Selatan, Ethiopia, Afrika Tengah, Chad, dan Libya.

Warta Terbaru

To Top