Internasional

Ini Kaitan Antara Opium dengan Konflik Myanmar

Ini Kaitan Antara Opium dengan Konflik Myanmar

Sumedang Media, NAYPYIDAW — Jumlah lahan yang dipakai untuk menempatkan opium terus berkurang di Myanmar. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menuliskan dalam Survei Opium Myanmar 2018 pada Jumat (11/1), ada selama 37.300 hektar tanah di negara tersebut yang ditanami opium tahun lalu. Jumlah tersebut turun dari 41 ribu hektar pada 2017.

nyaris 90 persen dari seluruh opium tersebut ditanam di Negara Bagian Shan di unsur timur laut, lokasi pasukan pemerintah terus memerangi pemberontak etnis.

“Penurunan terbesar dalam budidaya opium sudah terlihat di wilayah yang memiliki ketenteraman yang relatif baik” ungkap UNODC. “Namun, di sejumlah wilayah di Shan dan Kachin yang merasakan konflik berkepanjangan, penanaman opium terus berlanjut, suatu korelasi yang jelas antara konflik dan buatan opium,” tambah lembaga PBB itu.

Di Kachin, mayoritas penanaman opium dilaksanakan di wilayah yang dikontrol oleh Kachin Independence Army. Sementara lahan opium di Shan Utara sedang di bawah pemantauan Myanmar National Democratic Alliance Army.

Di Shan Selatan terdapat Pa-O National Liberation Army, Restoration Council of Shan State, dan Shan State Army South. Di Shan Timur terdapat People Militia’s Force. “Ada hubungan langsung antara narkoba dan konflik di negara itu, dengan ekonomi narkoba menyokong konflik dan pada gilirannya konflik memfasilitasi ekonomi narkoba. Memberikan penyelesaian untuk konflik memerlukan pemutusan siklus ini,” ujar UNODC.

Pada pertengahan 1990-an, Segitiga Emas Myanmar, yang mencakup wilayah perbatasan Laos dan Thailand, sudah menjadi pusat perniagaan opium dan heroin dunia. Sejak itu, pemerintah semakin gencar mengerjakan perlawanan, walau konflik memungkinkan perniagaan narkoba guna terus berkembang.

Baca juga, Militer Myanmar Sebut tak Ada Rohingya yang Terbunuh.

Myanmar masih menjadi produsen opium terbesar kedua di dunia, sesudah Afghanistan. Negara ini pun masih menjadi pemasok utama opium dan heroin di Asia Timur dan Asia Tenggara, serta Australia.

UNODC mengatakan, perang sipil tahun lalu pun menyulitkan pemerintah guna mengakses daerah-daerah penghasil opium. Kerusuhan telah merintangi upaya guna menghancurkan ladang opium.

Sekitar 2.605 hektar lahan opium telah dibasmi pada 2018, 26 persen lebih rendah dari tahun sebelumnya. Namun data UNODC mengindikasikan jumlah lahan sudah menurun semenjak 2015.

Lembaga tersebut mencatat, masalah ekonomi tergolong kurangnya lapangan kerja dan ketimpangan pendapatan pun berkontribusi pada perniagaan narkoba yang masih berjamur. Upaya semua pedagang orang dan penjahat terorganisir guna mendiversifikasi pasar pun semakin berkembang.

UNODC menunjukkan, dari 11 negara yang mereka awasi, sembilan di antaranya menuliskan metamfetamin merupakan obat-obatan terlarang terbesar yang menjadi perhatian mereka. Empat dasawarsa lalu mereka melulu mengkhawatirkan heroin.

“Telah ada penambahan tajam dalam pasokan, dan permintaan, obat-obatan sintetis dan terutama metamfetamin di semua Asia Timur dan Tenggara dan distrik tetangga” ungkap UNODC.

Laporan lembaga tersebut diluncurkan sejumlah hari sesudah International Crisis Group menuliskan konflik yang berkepanjangan di Negara Bagian Shan sudah mengubah wilayah itu menjadi pusat perniagaan global metamfetamin. Bisnis dikendlikan oleh kelompok-kelompok bersenjata setempat.

“Perdagangan, yang kini mengerdilkan pekerjaan bisnis yang sah, telah membuat ekonomi politik yang berlawanan dengan perdamaian dan keamanan” ungkap International Crisis Group, dalam suatu laporan, Senin (7/1) lalu.

“Ladang ini menyerahkan pendapatan guna kelompok-kelompok bersenjata dari seluruh lini,” ungkap kumpulan itu.

International Crisis Group pun mengatakan, milisi dan kumpulan bersenjata lainnya yang mengendalikan area buatan dan rute perniagaan utama, tidak mempunyai insentif untuk mengerjakan demobilisasi.

Senjata, kontrol teritorial, dan ketiadaan lembaga negara sangat urgen untuk menjaga pendapatan mereka dari penjualan obat-obatan. Jeremy Douglas, perwakilan regional guna UNODC di Asia Tenggara dan Pasifik, mengatakan untuk , menuntaskan masalah  memerlukan kerja sama regional.

Pembuatan metamfetamin memerlukan bahan kimia prekursor, yang tidak jarang kali diselundupkan ke negara tersebut dari Cina. Sementara obat-obatan tersebut sendiri memerlukan jaringan perniagaan yang bisa diandalkan untuk mencapai konsumen di luar perbatasan Myanmar. “Wilayah ini memerlukan strategi bersama. Myanmar tidak akan dapat menyelesaikan kondisi ini sendirian,” ujar Douglas.

Warta Terbaru

To Top