Ekonomi & Bisnis

Lelang Ditutup, 7 Industri Migas Dapat Kelonggaran

Sumedang Media, Jakarta – Pemerintah memfasilitasi tujuh perusahaan yang tertarik ikut lelang reguler 2018. Perusahaan itu belum mengembalikan dokumen tender hingga masa pendaftaran ditutup pada 3 Juli 2018.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Djoko Siswanto dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (14/7/2018), menjelaskan, pemerintah akan memanggil ke-tujuh perusahaan itu untuk evaluasi. "Iya, (memang) sudah clear ditutup. Tapi, sesuai peraturan menteri, bagi yang berminat, Dirjen Migas diberi kewenangan untuk memberi perpanjangan dan sebelum itu diputuskan, panitia rapat dulu," ungkap Djoko.

Menurut dia, belum dikembalikannya dokumen lelang reguler ditengarai karena para kontraktor masih menghitung kembali nilai keekonomian masing-masing blok migas.

Terlebih, ia menambahkan, para investor mempertimbangkan tambahan porsi bagi hasil (split), apabila berhasil menggarap blok sesuai dengan karakteristik lapangan yang ada. "Kami tunggu laporannya dulu, kenapa. Kami panggil lagi," ujar Djoko.

Ke-tujuh perusahaan itu merupakan peserta dari lelang reguler sebanyak 19 blok migas tahun 2018. Sementara, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan, sejak 2017 hingga Juni 2018, pemerintah telah menetapkan 25 kontrak migas dengan skema bagi hasil produksi kotor (gross split). Dari 25 kontrak tersebut, sembilan di antaranya merupakan hasil lelang blok migas periode 2017-2018.

Menurut dia, dengan skema gross split, proses birokrasi dan pengadaan menjadi lebih efisien, sehingga kegiatan eksplorasi, penemuan cadangan maupun tambahan produksi migas juga bisa lebih cepat dibandingkan kontrak dengan skema pengembalian biaya operasi (cost recovery). "Dengan skema gross split ini, penerimaan negara, atau government take juga menjadi lebih pasti," kata Agung.

Agung menambahkan, sebanyak sembilan blok migas berskema gross split dari lelang 2017-2018 itu, merupakan hasil lelang dengan mekanisme penawaran langsung. Dengan penawaran langsung, maka blok migas yang dilelang diusulkan perusahaan setelah sebelumnya dilakukan studi bersama (joint study) yang melibatkan akademisi.

Seia menambahkan, blok migas penawaran langsung itu dilelang Kementerian ESDM dengan memberikan hak menyamakan penawaran (right to match) kepada perusahaan yang telah melakukan joint study penyiapan blok migas.

Sementara, dengan mekanisme lelang reguler, tidak melalui kegiatan joint study oleh perusahaan. Komitmen Rp14 triliun Agung juga menambahkan dari 25 kontrak migas gross split itu, total komitmen pasti investasinya mencapai US$1 miliar dolar AS, atau setara Rp14 triliun (kurs Rp14.000/US$).

Nilai investasi itu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. "Komitmen pasti investasi satu miliar dolar AS ini sangat besar. Disamping itu, karena ini pakai 'gross split', maka proses eksekusi investasinya akan jauh lebih cepat, sehingga penemuan cadangan baru juga tentu akan lebih cepat," ujar Agung.

Menurut dia, tren positif peningkatan minat investasi migas Indonesia juga terlihat dalam dua tahun terakhir. "Uniknya lagi, semua investasi yang tercermin dalam komitmen pasti itu menggunakan skema 'gross split'," ucapnya.

Jika pada 2017 dan 2018 sebanyak sembilan blok migas ditetapkan sebagai pemenang lelang, ia menambahkan, maka kondisi dua tahun sebelumnya justru berbanding terbalik, tidak ada satu pun blok migas yang ditawarkan dengan skema cost recovery yang laku dilelang.

Ia mengatakan kepastian investasi juga didukung dengan cepatnya pemerintah dalam pengambilan keputusan. "Blok migas terminasi tahun 2018, 2019 dan bahkan 2020 sudah diputuskan sejak sekarang. Hal ini tidak pernah dilakukan sebelumnya, yang diyakini akan membuat iklim investasi menjadi semakin kondusif," kata Agung. [tar]

 

Inilah

Warta Terbaru

To Top