Ekonomi & Bisnis

OECD Ramal Ekonomi Asia Bagus, RI Bagaimana?

Sumedang Media, Jakarta – Proyeksi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan perekonomian ASEAN, China dan India, tetap stabil dalam jangka pendek.
   
"Negara berkembang Asia dapat mempertahankan pertumbuhan kuat dalam jangka pendek apabila mampu mengendalikan tekanan domestik dan eksternal," kata Director of the OECD Development Centre and Special Advisor to the OECD Secretary-General on Development Mario Pezzini dalam keterangan kepada media di Jakarta, Jumat (13/7/2018).
   
Laporan terbaru berjudul Update to the Economic Outlook for Southeast Asia, China dan India 2018 yang baru diluncurkan di Markas OECD, Paris, menyatakan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut, bisa mencapai 6,6% pada 2018. Sedikit turun menjadi 6,5% pada 2019. Semuanya didukung konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat.
   
Secara khusus, proyeksi rata-rata untuk pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara mencapai 5,3% pada 2018 dan 2019. Dengan pencapaian terbaik di Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam dan Filipina.

Untuk Indonesia, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,3% pada 2018 dan 5,4% pada 2019.
   
Laporan ini mencatat negara-negara berkembang di Asia mempunyai neraca transaksi berjalan yang terkendali serta aliran modal masuk yang kuat.
   
Disamping itu, otoritas moneter di berbagai negara itu telah menaikkan suku bunga acuan untuk merespon tekanan dari laju inflasi dan perlemahan mata uang. Otoritas moneter ini juga menggunakan instrumen cadangan devisa untuk menjaga likuditas di pasar.
   
Kebijakan fiskal di berbagai negara ini juga dilakukan secara tepat dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.
   
Meski demikian terdapat risiko dalam proyeksi ini, yaitu dampak kenaikan suku bunga acuan di negara maju, ketidakpastian dari pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang sudah direncanakan dan konsekuensi dari sentimen proteksionisme kepada ekonomi kawasan.    
   
Bagian khusus dari laporan ini juga memperlihatkan kesempatan bagi negara berkembang di Asia untuk meningkatkan kerja sama "cross-border" dalam sektor perdagangan secara elektronik (e-commerce).
   
Hal itu sangat dimungkinkan karena kawasan ini merupakan salah satu pemain besar dalam e-commerce dan bisa memberikan kontribusi kepada pertumbuhan dari sektor perdagangan digital secara global di masa mendatang.
   
Saat ini, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), infrastruktur ICT, transportasi dan logistik, sistem pembayaran serta kerangka legal dapat memberikan dampak positif kepada pertumbuhan di masa depan.
   
Untuk mendapatkan manfaat dari pengembangan e-commerce cross-border ini, pemerintah membutuhkan konektivitas, pengembangan skill dan sumber daya manusia, implementasi kebijakan baru dalam perlindungan konsumen dan keamanan digital serta kerja sama internasional dan regional. [tar]

Inilah

WARTA TERPOPULER

To Top