Ekonomi & Bisnis

Ketika Petani Ogah Tanam Tebu, Pabrik Gula Mati

Sumedang Media, Probolinggo – Luas areal tanam tebu di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur semakin susut. Ini ancaman serius terhadap upaya swasembada gula.

"Ada beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi oleh para petani penggarap lahan tebu, antara lain ketersediaan bibit tanaman, ketersediaan pupuk bersubsidi, kredit pertanian, dan tata niaga gula," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat, Ahmad Hasyim Ashari di Probolinggo, Minggu (20/5/2018).

Berbagai kendala itu menyebabkan petani tebu di Kabupaten Probolinggo, enggan menggarap lahan tebunya. Alhasil, mereka beralih ke pertanian nontebu yang dianggap lebih menguntungkan. "Luasan areal tebu selama lima tahun terakhir terus mengalami penurunan karena berbagai kendala yang dihadapi petani," ujar Hasyim.

Hasyim bilang, progres budi daya komoditas perkebunan tebu pada 2013, memiliki luas areal 3.662,37 hektar dengan produksi tebu sebanyak 17.085,76 ton. Angka produktivitasnya mencapai 4,67 ton/ha. Setahun kemudian, luas areal tebu turun menjadi 3.071,58 hektar dengan produksi sebesar 14.308,88 ton, produktivitasnya 4,66 ton/ha.

Pada 2015, luas areal tebu turun lagi menjadi 2.787,62 hektar, produksinya 13.532,05 ton, produktivitas 4,85 ton/ha. Pada 2016, areal kebun tebu 2.787,62 hektar, produksinya 13.700 ton, produktivitas 4,91 ton/ha.

Tahun lalu, luas areal kebun tebu tersisa 2.534,50 hektar. Dengan produksi sebanyak 13.800 ton, produktivitas melesat menjadi 5,44 ton/ha.

Penurunan luas area tebu disebabkan animo masyarakat beralih pada komoditas lain. "Penurunan luas areal pertanian tebu berimbas pada penurunan produksi gula, dan ditambah lagi faktor persaingan yang membuat beberapa pabrik gula melakukan merger bahkan gulung tikar, sehingga kini masih terdapat 3 PG yang bertahan di Kabupaten Probolinggo yaitu PG Pajarakan, PG Wonolangan, dan PG Gending," kata Hasyim.

Sebagai upaya untuk mempertahankan ketiga pabrik gula tersebut, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Wahid Nurahman berharap kepada pemerintah daerah secepatnya melakukan pembahasan bersama mencari solusi terbaik, agar tiga PG sebagai aset kebanggaan Kabupaten Probolinggo dari peninggalan era Kolonial Belanda itu dapat eksis di tengah persaingan dengan gula impor.

"Ada beberapa hal mendesak untuk secepatnya dibahas di antaranya efisiensi dan penataan manajemen PG, bahan baku dengan ketersediaan terus menurun dan turun minat masyarakat untuk menanam tebu," ucapnya.

Untuk itu, lanjut dia, perlu dipikirkan penambahan lahan untuk tanaman tebu dan ada kepastian Harga Eceran Tertinggi (HET) gula dari pemerintah, sehingga harga tidak dipermainkan oleh pedagang besar yang ujung-ujungnya merugikan para petani tebu.

General Manager PG Wonolangan Heru Wibowo mengatakan harapan ke depan yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi gula ialah meningkatkan kinerja produksi PG, agar tidak berhenti produksi gulanya dan untuk memenuhi kebutuhan tebu maka pihaknya mengambil tebu dari Lumajang.

"Suplai tebu yang dibutuhkan oleh PG Wonolangan mencapai 3 juta kuintal, di antaranya 1 juta kuintal berasal dari Kabupaten Probolinggo dan 2 juta kuintal dari Lumajang," ucapnya lagi.

Wilayah Kabupaten probolinggo yang memiliki 3 PG minimal membutuhkan 7,5 hingga 10 juta kuintal tebu, sehingga program perluasan dan pengembangan lahan areal pertanian tebu sangat dibutuhkan guna menunjang kualitas hasil produksi PG di Kabupaten Probolinggo.[tar]

Inilah

Warta Terbaru

To Top