Ekonomi & Bisnis

Kapan Tren Penurunan IHSg Berakhir?

Sumedang Media, Jakarta – IHSG berada dalam Trend Bearish sudah 4 bulan. Trend penurunan ini ialah fase penurunan IHSG paling lama dalam 2 tahun terakhir.

Fase pelemahan ini sudah ‘menghanyutkan’ ribuan bahkan puluhan ribu trader ‘di dalamnya’. "Bagi kami yang  memang sejak awal tahun sudah mempersiapkan sekaligus mengharapkan IHSG memasuki masa bearish di awal tahun ini," kata pengamat pasar modal, Argha Jonathan Karo Karo, Minggu (20/5/2018).

"Kejatuhan IHSG ialah sesuatu hal yang sangat kami syukuri, namun bagi mereka yang mungkin masih baru dan belum pernah mengalami trend bearish sebelumnya, kejatuhan ini mungkin dirasakan seperti badai yang tidak kunjung berakhir."

Namun setelah 4 bulan dilalui baik kedua pihak baik mereka yang mensyukuri datangnya trend  bearish di IHSG. Mereka yang mau tidak mau terbawa hanyut dalam kejatuhan IHSG saat ini sudah sama-saham menunggu waktunya IHSG bangkit lagi. "Apakah ini waktu yang tepat untuk kita masuk ke market, atau kita masih harus menunggu lebih lama lagi?."  
 
Di awal bulan April lalu kondisi ini mulai kelihatan potensinya, jika inestor asing tidak secepatnya melakukan aksi beli di IHSG maka IHSG akan turun ke level 5.700-an, hal itu sudah menjadi kenyataan di bulan Mei ini. Bahkan asing masih terus jualan, maka IHSG pun sudah turun sampai targetnya di 5.700-an.

"Jika kita melihat kondisi selama bulan Mei ini terlihat memang indeks kita sudah berulang kali rebound setelah turun ke kisaran 5.700-an seperti yang kami targetkan," jelasnya.

Hal ini jelas mengundang pertanyaan bagi para investor dan trader, untuk melihat apakah IHSG sudah sampai ke bottom-nya ataukah yang terjadi hanya merupakan dead cat bounce dan IHSG akan turun lagi ke level 5.600-an.

Beberapa faktor yang bisa dijadikan pertimbangan seperti catatan penurunan IHSG. Artinya untuk level tertingginya di bulan Februari lalu saat IHSG tutup di level 6.689. Sedangkan penutupan IHSG di hari Jumat lalu (18/5/2018) di level 5.783. Berarti tercatat IHSG sudah turun sebanyak 14%.

"Pada awal bulan April lalu kami sudah sempat membahas bahwa jikat kita mempelajari setiap penurunan IHSG sejak tahun 2010 lalu, mendapati umumnya IHSG turun di kisaran 15% – 20% dari level tertingginya sebelum trend bearish dimulai."

Artinya saat ini penurunan indeks udah cukup wajar jika dibandingkan dengan tren-tren penurunan IHSG dalam 8 tahun terakhir, dan jika penurunan sampai ke level 5.700 makan IHSG sudah turun 15%. Jika dilihat dari sudut pandang ini cukup wajar jika mengharapkan kalau IHSG sudah berada di fase-fase akhir penurunannya saat ini.

"Dalam grafik indeks Dow Jones di atas kita bisa melihat bahwa kondisi Dow Jones dalam 2 bulan terakhir terlihat meskipun belum bisa dikatakan Dow Jones sudah kembali ke trend bullishnya," jelasnya.

Namun Dow bisa dikatakan sudah berada dalam trend sideways, dan sudah jauh lebih baik dari IHSG saat ini. Namun negatifnya dalam jangka pendek Dow Jones saat ini sudah berada di kisaran batas atas trend bearisnya. Secara technical ada kecendurungan Dow Jones kembari turun lagi di minggu ini, hal itu dapat memberikan tekanan tambahan untuk IHSG.

Selain itu pelemahan rupiah yang saat ini sudah berada di atas level 14.000 per Dollar Amerika juga dapat memberikan sentimen negatif untuk IHSG jangka pendek.

Jika disimpulkan ada faktor positif untuk IHSG dari sudut pandang pergerakan indeks dunia, dan negatif dari pelemahan nilai rupiah. Jadi efek keduanya bisa saling menetralisir satu sama lain. Namun jika Dow Jones kembali turun minggu ini, maka tekanan penurunan IHSG dalam 1 minggu ke depan akan cukup besar, dan kemungkinan bisa menguji level support di 5.700.

"Pada akhirnya kita sama-sama tahu bahwa pergerakan IHSG kedepan tetap ditentukan oleh kemana arah dana asing bergerak, dan sampai minggu lalu investor asing masih memilih untuk terus jualan, artinya indikator terkuat pergerakan IHSG masih tetap mengarah ke bawah."

Sepanjang perdagangan pekan lalu dana asing yang keluar dari BEI sebesar Rp3 triliun. Hal itu menandakan bahwa investor asing masih sangat serius untuk terus melanjutkan aksi profit takingnya di bursa Indonesia. Indikator Foreign Flow dan Foreign Action juga masih terus kompak mencetak record terendahnya, yang artinya secara Foreign Flow seharusnya IHSG pun sudah siap mencetak record terendahnya lagi di tahun ini.

Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui alasan dibalik tidak henti-hentinya aksi jual asing di IHSG. Karena bukan suatu kewajiban untuk memberikan alasan investor asing masih terus jualan. "Fokus kita sebagai investor adalah  mencari keuntungan, dan bukan mencari alasan," ucapnya.

Namun potensi IHSG kembali mencetak record terendahnya akan terus bertambah besar setiap harinya, selama investor asing masih terus jualan.

Inilah

Warta Terbaru

To Top