Ekonomi & Bisnis

Inilah Pemicu Defisit Neraca Perdagangan Versi BI

Sumedang Media, Jakarta – Peningkatan nilai impor, yang tidak diimbangi dengan nilai ekspor mengakibatkan neraca perdagangan dalam negeri pada bulan April mengalami defisit sebesar US$1,63 miliar.

Nilai impor April mengalami kenaikan sebesar US$16,09 miliar atau 11,28 % bila dibandingkan dengan Maret. Sedangkan ekspor malah mengalami penurunan, yakni US$14,47 miliar atau menurun 7,19 % dibanding Maret.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowadojo mengatakan, defisit neraca perdagangan tentun sejalan dengan peningkatan aktivitas sektor ekonomi.

“Neraca perdagangan mengalami defisit 1,63 miliar dolar AS terutama karena peningkatan impor nonmigas sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi,” kata Agus di kantor BI, Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Sedangkan posisi cadangan devisa pada April 2018 tercatat 124,9 miliar dolar AS. Jumlah ini, kata dia, setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Ke depan, sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi domestik, defisit transaksi berjalan pada 2018 diperkirakan berada dalam kisaran 2,0-2,5% dari PDB, tetap terkendali dalam batas yang aman yaitu tidak melebihi 3,0% dari PDB,” ujar dia.

Sementara terkait defisit transaksi, kata dia, berjalan tercatat 5,5 miliar dolar AS (2,1% dari PDB) pada triwulan I 2018, lebih rendah dari defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai 6,0 miliar dolar AS (2,3% dari PDB).

Menurut dia, penurunan defisit transaksi berjalan terutama dipengaruhi oleh penurunan defisit neraca jasa dan peningkatan surplus neraca pendapatan sekunder. Sementara itu, transaksi modal dan finansial tetap mencatat surplus di tengah tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

“Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2018 tercatat 1,9 miliar dolar AS, terutama ditopang oleh aliran masuk investasi langsung yang masih cukup tinggi sehingga mencerminkan tetap positifnya persepsi investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Pada April 2018,” kata dia. [hid]

Inilah

Warta Terbaru

To Top