Ekonomi & Bisnis

Masyarakat Sawit Minta Promosi Positif Digencarkan

Sumedang Media, Jakarta – Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi), Darmono Taniwiryono, menyatakan, sudah saatnya pemerintah dan masyarakat mendorong promosi positif terhadap minyak sawit.

Apalagi, kata Darmono di Jakarta, Jumat (12/1/2018), sumbangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) terhadap devisa negara mencapai rata-rata lebih dari US$15 miliar setiap tahun.

"Banyak pihak yang tidak mengenal produk sawit tetapi berbicara negatif tentang sawit. Akibatnya, opini negatif komoditas itu telah merasuk di pemikiran generasi muda Indonesia sejak dari rumah hingga pendidikan," kata Darmono.

Oleh karena itu, ia menambahkan, sudah waktunya semua pihak melakukan riset-riset ilmiah agar tidak terlalu cepat mendiskreditkan produksi minyak kelapa sawit sebagai produk yang tidak ramah lingkungan.

Sebelumnya, Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Togar Sitanggang menyatakan, pola transmigrasi dan perkebunan kelapa sawit merupakan program pemerintah yang sukses di tahun 1980-an.

Kedua program ini mampu membuka keterisoliran daerah, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk sehingga berdampak pada pemekaran wilayah.

"Kalau dilihat historisnya, 4 dari 5 pemekaran di tingkat kabupaten di Indonesia merupakan wilayah transmigrasi yang penduduknya menggantungkan hidup dari perkebunan kelapa sawit," kata Togar.

Namun, ia menambahkan, karena berbagai keterbatasan program transmigrasi serta perkebunan kelapa sawit hanya mengikuti kondisi saat itu sehingga ada regulasi tertinggal dengan kondisi lapangan, akibatnya, sejumlah pihak menilai terjadi diskriminasi.

Togar mencontohkan, pada 1980-an, saat pengembangan awal, perusahaan sawit selalu harus mampu menyeimbangkan antara luasan areal, kemampuan produksi TBS serta kapasitas pabrik.

Perusahaan sawit berinvestasi berdasarkan kemampuan mereka. Jika memiliki 5.000 hektar lahan, maka pasokan yang dibutuhkan ialah 30 ton TBS per jam.

Saat itu, tambahnya, perusahaan hanya menggantungkan pasokan dari petani plasma karena keterbatasan kapasitas pengolahan pabrik serta petani mandiri belum berkembang.

Menurut Togar, kalaupun akhirnya perusahaan sawit menerima pasokan petani mandiri, harganya pasti berbeda. Karena, harga plasma dihitung berdasarkan rata-rata 2-3 bulan sebelumnya. Sementara, harga mandiri dihitung berdasarkan harga saat ini. [tar]

Sumber : Inilah

WARTA TERPOPULER

To Top