Ekonomi & Bisnis

Enggar Buka Impor Beras, Amran Sambut Musim Panen

Sumedang Media, Jakarta – Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut Februari puncaknya panen. Sementara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita malah membuka keran impor beras.

"Oktober (2017) musim hujan. Kalau umur padi tiga bulan, Januari berarti panen sehingga di Februari masuk panen puncak," kata Amran di kompleks Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat.

Amran mengatakan kondisi cuaca itu sama dengan yang terjadi pada awal 2017. Ia mengatakan cuaca di Indonesia baru normal dalam dua tahun terakhir mengingat sebelumnya terjadi fenomena El Nino dan La Nina.

Disamping itu, Amran juga mengatakan bahwa terjadi peningkatan produksi beras karena dukungan pemerintah melalui penambahan luas sawah, pembangunan irigasi tersier, dan normalisasi saluran irigasi dan embung, serta pembagian bibit unggul.

Hal itu dinilainya telah mampu meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman yang biasanya tanam satu kali menjadi dua kali.

disaat ditanya mengenai keputusan impor beras khusus sebanyak 500.000 ton di awal 2018, Amran mengatakan hal itu tidak akan menganggu petani karena ada harga pembelian pemerintah (HPP).

"Petani tetap terlindungi karena ada HPP. Salah satu contohnya jagung, karena regulasinya tepat hanya satu tahun lebih langsung swasembada. Dahulu impor Rp12 triliun sekarang nol," ucap dia.

Disamping itu, Amran juga mengatakan impor 500.000 ton beras hanya mencukupi setara dengan enam hari dari rata-rata kebutuhan beras nasional yang mencapai 2,5 juta ton per bulan.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan impor beras khusus sebanyak 500.000 ton dari Vietnam dan Thailand pada akhir Januari nanti dilakukan tanpa menggunakan dana APBN.

Impor beras dilakukan dan didistribusikan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) yang bermitra dengan perusahaan beras lain. Mekanisme distribusi beras ke pasaran juga akan dilakukan dengan memakai jaringan PPI.

Menurut Enggartiasto, keputusan untuk melakukan impor beras dilakukan setelah pemerintah, Satgas Pangan, dan Bulog melakukan operasi pasar (OP) sejak November-Desember 2017 untuk menekan peningkatan harga beras medium.

Jenis beras yang diimpor bukanlah jenis premium, melainkan beras khusus yang tidak ditanam di dalam negeri dan nantinya dijual sesuai dengan harga beras medium, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1/2018 tentang Ekspor dan Impor Beras.

Penugasan oleh PPI bertujuan agar harga beras khusus yang masuk ke pasaran dapat dikendalikan atau dijual sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) beras medium, yakni Rp9.450,00 per kilogram. [tar]

Sumber : Inilah

WARTA TERPOPULER

To Top