Ekonomi & Bisnis

Bau tak Sedap, Harga tak Sehat di Pelelangan Karet

Sumedang Media, Bungo – Meski era keemasan karet sudah mulai tenggelam, namun lelang karet di Dusun Pelangeh, Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi tetap saja meriah.

Awal menjejakkan kaki di tempat pelelangan karet, langsung disambut bau anyir nan tak sedap. Ternyata, aroma yang disukai lalat itu, berasal dari bongkahan karet berbentuk kubus yang diletakkan berbaris.

Memang benar, getah dari karet alam yang dengan cuka, mengalami pembusukan. Yang menimbulkan bau menyengat sampai radius cukup panjang.

Namun, saat ini, sudah ada cairan kimia yang mampu menghilangkan bau menyengat itu. Jadi, okelah, soal bau tak perlu diperpanjang karena sudah ada obatnya.

ialah Janjik, Datuk Rio atau Kepala Dusun yang menjadi pimpinan panitia lelang, mengeluhkan soal rendahnya harga. "Petani karet di wilayah kami menjerit semua. Karena harga rendah sekali, hanya Rp 10 ribu per kilogram. Kalau bisa Rp17 ribu per kilogram, kami agak leluasa bernafas," papar Janjik, Jambi, Jumat (15/9/2017).  

Pengakuan Janjik ini, bisa jadi memang realistis. Di tengah masih mahalnya harga pangan, masih rendahnya harga karet tentu menjadi masalah serius bagi warga Dusun Pelangeh, Kecamatan Palekat Ilir yang menggantungkan hidupnya dari pohon karet.

Ternyata, rendahnya harga karet di Kabupaten Bungo, ini lantaran kualitasnya memang rendah. Di mana, karet-karet yang dijual atau dilelang banyak dicampur daun, ranting hingga serpihan kayu. Disamping itu, proses penggumpalan karet dilakukan tidak menggunakan cuka namun air aki. Lho?

Ya, cara itu ditempuh petani agar berat karet bisa naik. Dengan begitu, petani bisa untung besar lantaran karetnya semakin berat. Alih-alih ingin untung besar, namun hasilnya malah buntung. Akibat kotornya karet serta pencampuran dengan air aki, menurunkan kualitas. Alhasil, harga ikut terjun bebas.

"Kalau karet yang bersih, berkualitas biasanya agak kekuning-kuningan. Kalau disobek, tidak ada sampah-sampahnya. Kalau diinjak tidak keluar air. Itu harganya bisa tinggi," papar Janjik.

Dirinya mengakui bahwa masih banyak petani yang menghalalkan segala cara demi untung besar. Alhasil, kualitas karet melintir berdampak kepada rendahnya harga. "Berbeda dengan Malaysia, kesadaran petaninya tinggi. Akibatnya kualitas karet di sana lebih bagus," papar Janjik.

Berdasarkan data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Jambi, produksi karet pada 2016 mencapai 326.000 ton. Jumlah ini naik ketimbang produksi 2015 yang mencapai 324.000 ton. “Persentase produksi karet meningkat, karena saat ini sudah ada penambahan kapasitas mesin, yakni adanya pabrik PT Star Rubber di Kabupaten Bungo,” kata John Kennedy, Ketua Gapkindo Provinsi Jambi.

Sedangkan untuk ekspor karet bongkah, sesuai Standar Indonesia Rubber/SIR20, mengalami penurunan dari 302.000 ton di 2015, menjadi 297.000 ton pada 2016. Penurunan ini lantaran adanya kebijakan pembatasan kuota ekspor melalui skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) yang dilakukan pada 2016.

Produktivitas karet menjadi salah satu komoditi andalan Jambi yang terbukti mampu mengangkat ekonomi rakyat di Jambi. Terkait masalah kualitas karet di Jambi, sudah ada Pergub No 15/2016 yang mengatur tentang kualitas bongkah karet atau block rubber.

“Di situ sudah mengarahkan bagaimana hasil produksi karet petani akan lebih baik. disaat karet bagus akan mendorong harga. Namun kalau hasilnya jelek bagaimana mau ekspor keluar dengan harga yang bagus,” kata John.

Untuk menjaga harga karet dunia agar tidak anjlok, tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand membentuk International Tripartite Rubber Council (ITRC). Ketiga produsen karet terbesar di dunia ini, mengadakan pertemuan lanjutan di Bangkok, Thailand, pada 14-15 September 2017.

Pada Maret 2016, ITRC sepakat memangkas ekspor karet sebanyak 700.000 metrik ton. Kebijakan ini ditempuh setelah harga karet di pasar internasional anjlok hingga di bawah US$1 per kilogram.  

Dengan pembatasan ekspor ini, diharapkan bisa memperkuat harga di pasar global. Dan, benar juga. Dalam sekejab, harga karet mulur di kisaran US$2 per kilogram.

Di awal 2017, Bloomberg mencatat harga karet berada di kisaran US$2,37 per kilogram. Atau naik 82,6% ketimbang periode sama di tahun sebelumnya. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan mencatat ekspor karet dan produk karet Indonesia, mengalami tren negatif di periode 2012—2016. Nilai ekspor komoditas itu dalam 5 tahun terakhir, tergerus hingga 15%.

Namun, ekspor karet dan produk dari karet mengalami pertumbuhan 5% secara year on year (yoy) periode Januari 2017—Mei 2017. Nilai ekspor karet naik dari US$2,18 juta menjadi US$3,61 juta. Mudah-mudahan, harga karet terus mulur sehingga petaninya bisa gembira. [ipe]

 

Warta Terbaru

To Top