Ekonomi & Bisnis

Keterbatasan Lahan Kendala Swasembada Kedelai

Keterbatasan Lahan Kendala Swasembada Kedelai

Sumedang Media, JAKARTA — Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian mengungkapkan keterbatasan lahan masih menjadi tantangan untuk memenuhi keperluan kacang  kedelai domestik dan mewujudkan swasembada kedelai. Dirjen Tanaman Pangan Sumardjo Gatot Irianto pada diskusi di Kementerian Pertanian menuliskan Indonesia paling tidak mesti mempunyai ketersediaan lahan tanam menjangkau 2,5 juta hektare untuk dapat swasembada kedelai.

“Amerika Serikat punya 30 juta hektare guna kedelai. Kita kalau dapat mencapai 2,5 juta hektare lahan telah swasembada. Masalahnya lahan yang cocok untuk kedelai paling terbatas” ungkap Gatot, kemarin.

Ia memaparkan, lahan yang sesuai untuk ditanami kacang kedelai di Indonesia memang jumlahnya terbatas. Hal tersebut karena lahan kedelai mesti mempunyai kadar pH yang netral dengan kedalaman paling tidak 20 sentimeter.

Sejumlah wilayah di luar pulau Jawa seringkali memiliki situasi tanah yang masam sampai-sampai kadar pH mesti dinetralkan. Disamping itu, jumlah hama yang menjangkau 27-29 jenis pun menambah ongkos produksi petani.

Baca juga, Kementan Usulkan Kewajiban Importir Tanam Kedelai

Gatot melafalkan wilayah yang sesuai untuk dikembangkan menjadi sentra buatan kedelai merupakan Jawa Tengah, khususnya di Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Grobogan. Disamping itu, distrik Jawa Barat, laksana Sukabumi dan Garut juga sesuai dijadikan distrik tanam.

Kementerian Pertanian menulis produksi kedelai pada 2018 sebesar 982.598 ton dengan luas panen 680.373 hektare. Sementara itu, konsumsi kedelai tahun lalu dapat mencapai 2,83 juta ton.

Dalam peluang sebelumnya, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arief Nugraha menilai, target swasembada kedelai pada 2020 yang dipermaklumkan Kementerian Pertanian butuh dikaji ulang, salah satunya sebab produktivitas komoditas tersebut. Berdasarkan data BPS pada 2018, kedelai Indonesia belum bisa memenuhi keperluan dalam negeri, yang mana buatan Indonesia melulu sebesar 982.598 ton. Bagi memenuhi keperluan kedelai dalam negeri, Indonesia perlu mengerjakan impor sejumlah 2,6 juta ton guna menutupi kelemahan produksi dalam negeri.  

Berdasarkan keterangan dari Arief, kedelai sebetulnya adalahtanaman subtropis, sehingga perkembangan di wilayah tropis laksana Indonesia menjadi tidak maksimal. Iklim menjadi salah satu hal yang memengaruhi tingkat produktivitas kedelai.

Disamping itu, lanjut Arief, kedelai merupakan jenis tumbuhan yang memerlukan kelembaban tanah yang lumayan dan suhu yang relatif tinggi untuk perkembangan yang optimal. Sementara tersebut di Indonesia, curah hujan yang tinggi pada musim hujan menyebabkan tanah menjadi bosan air. Drainase yang buruk pun menyebabkan tanah pun menjadi tidak cukup ideal untuk perkembangan kedelai.   

Warta Terbaru

To Top