Ekonomi & Bisnis

Pengamat: Kerugian Bisnis Penerbangan Masuk Lampu Merah

Pengamat: Kerugian Bisnis Penerbangan Masuk Lampu Merah

Sumedang Media, JAKARTA — Pengamat dari Indonesia Aviation Center, Arista Atmajati menuliskan bisnis penerbangan di Indonesia ketika ini tidak sedikit yang telah masuk ke etape kerugian. Menurutnya langkah kerugian telah masuk ke arah lampu merah. 

Arista menuturkan salah satu hal yang sangat terasa mengakibatkan kerugian tersebut yaitu harga avtur atau bahan bakar pesawat. “Harga minyak dunia ucapnya turun, namun di Indonesia harga avturnya tidak turun” ungkap Arista untuk , Jumat (11/1). 

Dia menuliskan harga avtur di Indonesia tidak merasakan penurunan sebab yang mengatur melulu PT Pertamina (Persero). Arista mengatakan sampai saat ini Pertamina belum inginkan menurunkan harga avturnya sampai-sampai masih mahal dan memberi beban pada operasional maskapai. 

Baca juga, ‘Lebih Mahal Tarif Bagasi daripada Suvenir’

Tak melulu harga avtur yang mahal, dalam pembelian bahan bakar maskapai pun masih mesti membayar ongkos tambahan lainnya. “Kalau di Indonesia lucu, ada ongkos yang dikenakan disaat truk tangki pembawa avtur dari depo ke apron. Biasanya jaraknya selama enam kilometer,” jelas Arista. 

Dengan begitu, ongkos mengantar avtur dari depo ke apron pesawat tidak cuma-cuma karena bukan tergolong pelayanan. Biaya tersebut menjadi di antara pengeluaran yang lumayan tinggi andai diakumulasikan bakal terus membengkak. 

Belum lagi soal pajak avtur tersebut sendiri yang masih menjadi beban operasional. “Produksi avtur di Indonesia tidak mencukupi. Banyak diimpor dari Singapura yanh cadangan avturnya lebih banyak. Lalu ekspor ke Indonesia kena pajak dari Kementerian Keuangan,” ungkap Arista. 

Setelah avtur, kata dia, permasalahan suku cadang pesawat pun masih menjadi pengeluaran yang tidak sedikit. Arista menuliskan suku cadang pesawat masuk ke dalam kelompok barang mewah yang pajaknya dapat menjangkau 300 persen. 

Hal tersebut yang pun membuat sekolah pilot di Indonesia sampai saat ini masih mahal. “Karena  pesawat latih dirasakan barang mewah sebab kita pun Indonesia belum dapat memproduksi pesawat latih sendir. Begitu pun maskapai leasing pesawat pun salah satu beban sebab pakai dolar,” jelas Arista. 

Untuk itu, Arista tidak heran kenapa saat ini penjualan harga tiket terdapat di kisaran harga batas atas. Begitu pun dengan kepandaian baru sejumlah maskapai laksana Lion Air, Wings Air, dan Citilink Indonesia yang bakal menerapkan kepandaian bagasi berbayar.

Warta Terbaru

To Top