Ekonomi & Bisnis

‘Lebih Mahal Tarif Bagasi daripada Souvenir’

'Lebih Mahal Tarif Bagasi daripada Souvenir'

Sumedang Media, BANDARLAMPUNG — Naik pesawat tak bebas laksana dulu lagi. Penumpang mesti beranggapan ulang bila berkeinginan membawa barang dalam kapasitas besar. Pengenaan tarif bagasi meningkatkan beban untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Usaha keripik pisang ragam rasa di Jalan Pagaralam atau biasa dinamakan Gang PU terdampak dari penerapan tarif bagasi. Selama ini, pembeli paket oleh-oleh keripik pisang telah menurun sebab krisis, diperbanyak lagi adanya pengenaan tarif bagasi. Penjaja kripik pisang sepanjang Gang PU tersebut sangat menginginkan pengunjung dari luar Lampung.

“Usaha kami sekitar ini mengandalkan pembeli luar Lampung, sebab jumlahnya banyak. Kalau dalam kota paling jarang sekali, atau mereka melakukan pembelian untuk mengirim ke lokasi lain atau oleh-oleh guna saudaranya atau tamunya,” tutur Iwan, empunya toko keripik pisang di Gang PU, Kamis (10/1).

Berdasarkan keterangan dari dia, pemberlakuan tarif bagasi pesawat untuk penumpang, jelas dominan dengan pembelian pengunjung di Kampung Keripik di Gang PU. Tempat oleh-oleh kripik pisang ternama Kota Bandar Lampung tersebut, bakal kehilangan pelanggan yang diangkut oleh pihak agen perjalanan.

Ia mengatakan, sudah tentu pembeli tidak akan membawa barang yang tidak sedikit setelah berangjangsana ke Lampung. Pasalnya, tarif yang diberlakukan bakal lebih mahal biayanya dikomparasikan dengan harga barang oleh-oleh yang dibeli.

“Ini telah pasti, bukan lagi banyak-banyak yang beli. Tarif bagasi lebih mahal dari harga barang. Jadi, kami yang rugi,” ungkapnya.

Hal yang sama dirasakan kerajinan kain tapis dan batik di Lampung. Biasanya, pembeli mengerjakan kunjungan bareng dengan mobil dan bus. Belakangan jumlah trafik mulai berkurang. Hal tersebut sudah terjadi jauh sebelum pemberlakuan tarif bagasi.

“Kalau bagasi tidak cuma-cuma lagi, tentu lebih sepi lagi. Siapa yang inginkan beli kain, baju, dalam jumlah besar,” tutur Yuni, pengelola batik di Kemiling.

Biasanya, tutur dia, trafik orang-orang urgen dalam suatu instansi atau perusahaan dari luar Lampung ke tokonya mengerjakan pembelian dengan jumlah yang besar. Bila telah ada pembatasan atau pengenaan tarif bagasi, pembeli barang bakal berkurang drastis, pasalnya nak pesawat dikenakan tarif bagasi, yang biayanya melebihi harga barangnya.

Sekretaris DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Provinsi Lampung Adi Susanto menuliskan sudah memperhitungkan akan terjadi akibat yang signifikan penerapan ongkos bagasi seluruh maskapai penerbangan tersebut.

“Justru nantinya bakal mematikan usaha UMKM, pun usaha agen perjalanan,” ujar Adi Susanto untuk di Bandar Lampung, Kamis (10/1).

Berdasarkan keterangan dari dia, paket wisata yang ditawarkan anggota Asita telah jelas biayanya, tidak barangkali lagi untuk ditingkatkan secara sepihak. Agenda pelanggan sudah tentu akan melakukan pembelian oleh-oleh di wilayah tertentu, namun terpaksa beranggapan ulang sebab harus bayar bagasi.

“Kalau tarif bagasi mahal dari harga barang, wisatawan tidak inginkan beli oleh-oleh banyak,” ungkapnya.

Warta Terbaru

To Top