Ekonomi & Bisnis

Pemerintah Jangan Bergantung Cukai Rokok

Pemerintah Jangan Bergantung Cukai Rokok

Sumedang Media, JAKARTA — Ekonom yang juga Dewan Pakar Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Faisal Basri meminta Pemerintah untuk tak bergantung terhadap cukai rokok. Sebab, selama ini, Pemerintah terkesan memiliki ketergantungan terhadap cukai rokok.

“Ada ketergantungan pemerintah kepada pelimpahan cukai rokok yang sudah kadung besar. Tapi kita dorong tidak ada alasan cukai rokok sebagai instrumen peningkatan pendapatan pemerintah” ungkap Faisal Basri di Workshop Jurnalis AJI Jakarta, di Bogor, Sabtu (10/11).

Cukai, ia tekankan, merupakan sebuah pajak untuk barang atau produk yang buruk atau tak normal. Pengenaan cukai ditujukan untuk pengendalian produksi dan juga konsumsi dari sebuah produk. Rokok, merupakan salah satu produk tak normal.

“Jangan biarkan seperti ini terus. Kita dorong Pemerintah untuk membuat roadmap untuk diversifikasi penerimaan cukai dan pajak rokok” ungkap dia.

Dia juga menyayangkan adanya penundaan kenaikan cukai rokok pada 2019. Padahal, penerapan kenaikan cukai rokok bisa dilakukan sesuai dengan kurva laffer.

Dalam kurva laffer, ia menjelaskan, bila Pemerintah masih mengenakan cukai hanya sekitar 10 sampai 50 persen saja dari harga rokok, maka, penerimaan negara akan meningkat. Hal itulah yang saat ini terjadi di Indonesia.

Oleh karena penerimaan negara meningkat, hal itu jangan sampai menjadi sebuah alasan oleh Pemerintah untuk tak menaikkan cukai rokok. ia menekankan, jangan sampai Pemerintah menjadi sumber dari pendapatan negara.

Apalagi, disaat Pemerintah mengumumkan perihal pembayaran defisit BPJS dengan menggunakan dana pajak rokok. Semakin banyak stigma yang ada di tengah masyarakat yang menyangka, rokok berjasa kepada defisit BPJS.

“Logikanya sebenarnya bukan begitu. Seharusnya, semakin sedikit orang merokok, maka semakin sedikit pula eksposure kepada penyakit rokok. Maka dana BPJD pun akan menurun” ungkap dia.

Hukum ekonomi pun juga masih berlaku. Semakin mahal barang atau produk, maka permintaan pun menurun. Oleh sebab itu, ia meminta Pemerintah untuk menaikkan cukai rokok lebih dari 50 persen.

Republika

Warta Terbaru

To Top