Ekonomi & Bisnis

Mendag: Jagung Impor Dijual Rp 4.000 per Kilogram

Mendag: Jagung Impor Dijual Rp 4.000 per Kilogram

Sumedang Media, JAKARTA — Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, jagung impor untuk pakan akan dijual Rp 4.000 per kilogram (kg) dari gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) ke peternak mandiri. Harga itu sudah sesuai dengan Peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018 Tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen yag menyebutkan harga jagung di konsumen ialah Rp 4.000 per kg.

Enggar menjelaskan, penetapan harga sudah diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) pada pekan lalu. Dalam rapat, turut hadir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso. “Dalam rakortas, disebutkan bahwa sesuai usulan Kementan, kita impor 100 ribu ton jagung dengan harga jual Rp 4.000,” ungkapnya disaat ditemui di Gedung Kemendag, Jakarta, Jumat (9/11).

Jagung impor itu akan dikirim secara bertahap ke Indonesia. Pada tahap awal, sebanyak 70 ribu ton yang ditargetkan masuk pada 20 Desember. Jagung diperkirakan datang dari Argentina dan Brazil, sesuai yang tertera dalam surat resmi bagi eksportir jagung. Surat itu ditandatangani Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar pada Rabu (7/11).

Direktur Jendral Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan menambahkan, dalam rakortas, disampaikan bahwa impor jagung dilakukan untuk menekan harga jual jagung yang tengah tinggi di pasaran. Diketahui, harga jagung yang dibeli peternak kini mencapai Rp 5.800 sampai Rp 6.000 per kg.

Oke menuturkan, jagung impor akan dikirimkan ke sentra produksi ternak ayam dan telur di tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kabupaten yang mendapatkan jatah ialah Boyolali, Blitar dan Kabupaten Bandung. “Kami, bersama Bulog, secepatnya sinkronisasi dengan pemerintah daerah untuk pembagiannya,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Pusat Kajian Pertanian dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika mengatakan, keputusan importasi jagung yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian sudah merupakan langkah tepat. Hanya saja, kebijakan ini dinilai terlambat mengingat masa panen akan datang dalam waktu dekat. 

Berdasarkan pengalaman selama ini, impor membutuhkan waktu normal antara dua hingga tiga bulan. Apabila baru diteken November, Yeka memprediksi, jagung impor baru datang pada akhir Januari atau awal Februari. “Kalau nanti hasil produksi kita cukup, impor justru akan mubazir,” ungkapnya dalam acara diskusi bertema Darurat Jagung di Jakarta, Rabu (8/11).

 

Republika

Warta Terbaru

To Top