Ekonomi & Bisnis

Biodiesel Bisa Digunakan untuk Kendaraan Operasional Tambang

Sumedang Media, JAKARTA — Pemerintah terus menggalakkan penggunaan bahan bakar biodiesel. Saat ini pemerintah tengah menggodok Peraturan Presiden (Perpres) tentang penggunaan bauran minyak sawit dengan bahan bakar solar sebesar 20 persen atau B20.

“Salah satu comparative advantage yang kita punya ialah Crude Palm Oil (CPO), untuk itu Bapak Presiden sudah memerintahkan bahwa biosolar itu kandungan minyak kelapa sawit akan 20 persen. Sekarang ini sedang digodok peraturannya,” ungkap Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Arcandra Tahar, Ahad (12/8).

Dengan menggunakan B20, terdapat penghematan devisa negara dalam jumlah besar yang didapat dari berkurangnya impor bahan bakar Solar. Tahap awal, konsumsi B20 diwajibkan kepada kendaraan bersubsidi atau (PSO) seperti kereta api.

Nantinya, pemberlakuan B20 akan diterapkan di semua sektor termasuk industri manufaktur, tambang, pembangkit listrik hingga kendaraan pribadi. Pemerintah berharap, pada awal September ini B20 sudah bisa diterapkan.

Penggunaan B20 pada kendaraan operasional pertambangan telah dilakukan oleh PT Adaro Energy Tbk. Adaro telah menjalankan program pengembangan B20 dari minyak sawit sejak 2011 lalu.

Supervisor Biodiesel Fuel Plant Adaro Kharis Pujiono mengungkapkan, program pengembangan B20 ialah kerja sama antara Adaro, Komatsu, dan United Tractors. Adapun kendaraan yang diuji coba menggunakan campuran B20 berupa pengangkut batu bara.

“Percobaan pertama di 2 unit alat berat, yaitu untuk tipe HD785,” ungkapnya.

Kharis menambahkan, kapasitas pabrik biofuel Adaro mampu memproduksi perpaduan solar dengan minyak sawit sekitar 6.400 liter per hari. Sedangkan konsumsi masing-masing unit dari mencapai hingga 3.600 liter per hari.

“Kalau kapasitas pabrik itu 1,1 ton per hari, kalau diblend dengan CPO jadi 5,5 ton per hari,” jelasnya.

Selain uji coba menggunakan minyak sawit, Kharis menuturkan bahwa mulai tahun 2016, Adaro juga melakukan uji coba mengolah minyak jelantah menjadi campuran solar sebesar 20 persen yang diterapkan pada 6 unit kendaraan kecil dengan kapasitas mesin 2000 cc, dengan konsumsi per unit sekitar 350 liter dalam setahun.

“Minyak jelantah dipasok dari lingkungan tambang, seperti minyak (bekas) katering yang ada di adaro, yang digunakan karyawan sehari hari,” jelas Kharis.

Menurutnya, sejak uji coba tidak ada keluhan dari para pengemudi dalam penggunaan B20 di kendaraanya, bahkan ada yang menginformasikan menggunakan B20 lebih irit. “Ini yang masih kita analisa, kita analisa konsumsi harian berapa, dan masih ada evaluasi dalam waktu dekat ini,” ungkapnya.

Republika

Warta Terbaru

To Top